Di sebuah sudut
Semuanya dimulai pada suatu malam. Disaat bulan sedang purnama, dan seekor tikus sedang menemani menonton TV. Tidak ada yang tahu mengapa. seorang diri di tengah sepi, penuh dengan inspirasi yang tak kunjung menjadi. Terdiam, melamun, merintih, seperti seorang veteran yang pulang tanpa kedua kakinya.
Di saat itulah terdengar suara kecil, merintih di tengah malam. Desir angin dingin meraba indranya. ditatapnya wajah seorang anak perempuan kecil, yang terduduk di depan lemar. merintih. Siapakah dia? mau apa dia? mengapa pada saat-saat seperti ini dia datang mengunjungi?
Anak perempuan kecil, dengan gaun tidur berwarna putih. terduduk sendiri di depan lemari, merintih. Satu, dua, tiga, beranikah pada saat seperti ini untuk datang menghampiri dan bertanya padanya, "Apa yang terjadi padamu pada waktu silam?"
Tatapan mata yang iba, diiringi suatu kegetiran, anak perempuan kecil merintih.
Sendiri, dengan seekor tikus, dan seorang anak perempuan kecil, pada satu ruangan yang sama. TV tetap berbicara, bercerita tentang cuaca buruk yang menyebabkan banjir dan menghancurkan ratusan hektar padi siap panen, kemudian seorang pejabat tinggi, yang bertanggung jawab atas kemajuan daerahnya, menyangkal dugaan korupsi dan pergi menghindari kamera dengan menggunakan mobil mewah yang hanya ada satu di kota itu. Anak perempuan kecil merintih.
Mengapa ia mengunjungi pada saat seperti ini? Angin dingin yang mengusik indra, vibrasi pancaran TV yang bermain-main dengan iris mata. Suasana sepi yang menyiksa, dan kesendirian yang menyisa. Seorang perempuan kecil, merintih di depan lemari. Terduduk, dengan kepala menunduk.dengan gaun tidurnya berwarna putih. merintih.
Satu, dua, tiga, mungkin biasanya sesosok hijau yang penuh dengan nanah berdiri di depan pintu, atau sesosok bentuk dengan satu mata mengamati, atau wujud bocah botak yang mengajak bermain. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Kali ini seorang anak perempuan kecil terduduk dengan gaun tidur berwarna putih, di depan lemari.
Matahari masih harus menunggu, paling cepat empat jam sebelum ia berhak untuk menyapa bumi dengan cahayanya, apabila ia mau. bintang pun enggan untuk keluar dari tempat persembuniannya dari balik awan. Kali ini dirasa sangat perlu untuk bertanya, "Mengapa ia datang pada saat seperti ini"
Terasa sepi, terasing dan sendiri, seperti ditinggalkan oleh waktu, Dicoba untuk bangkit dan menghampir, sesosok anak perempuan kecil, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, merintih. Sudah bosan dengan permainan yang lau, sebuah mata menyempil di balik kegelapan, Sosok putih berambut pancang, pucat, tanpa wajah, yang biasa berdiri di samping televisi, berusaha tetap diam, mematung, menarik perhatian, namun kali ini bukan sesosok yang biasa datang mengunjingi. kali ini hanya seorang anak perempuan kecil yang duduk di depan lemari, merintih.
Berdiri di depan sang anak perempuan kecil, tidak memberikan reaksi yang berarti. Dicoba untuk berlutut mungkin akan membawa suatu haeapan untuk sebuah jawaban. Tapi untuk memulai bertanya, mungkin bukanlah sesuatu yang mudah untuk dimulai. Anak perempuat kecil, duduk tertunduk di depan lemari, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, merintih.
Ditatapnya rambut panjang yang berwarna hitam, menyentuh gaunnya yang masih putih. Rambutnya basah, jemarinya bersatu, badannya menggigil. Angin dingin kembali menyapa. tetesan air, mengali membasahi lantai. Wajahnya engan untuk diperlihatkan, namun isaknya cukup bercerita untuk menggambarkan raut wajahnya. Wajah polos, yang sedih, dengan tatapan mata yang kosong, seakan telah kehilangan sebuah mimpi bernama masa depan. Seorang anak perempuan kecil, terduduk di depan lemari, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, merintih.
Telapak kakinya terlihat sudah biru, dan gaun tidurnya, basah. terlihat tubuhnya yang rapuh menembus kain lembut putih yang melekat basah di tubuhnya. Hati terasa bergetar utnuk bertanya, namun rintihannya mulai memberi makna. Kedua telapak telapak tangannya mempersatukan kelima pasang jemari, bersatu di sekitar perutnya. Air mengalir dari rambutnya menetes diatas lantai. Namun, apakah itu air? Apakah itu air yang menbasahi lantai. mengapa iar begitu pekat dan menghitam seiring dengan waktu. Gaun tidur yang berwarna putih. Putih. Putih. putih dan dibalik jemari terlihatbercak-bercak merah yang mulai menjadi noda. Bercak-merah yang kini memenuhi sekitar pahanya, mulai mengering menjadi kerak paga gaun tuidurnya yang berwarna putih, mulai menunjukan sebuah kisah. Rintihannya mulai terdengar sayup-sayup menjadi rangkaian kata-kata. Tundukan kepalanya mulai memeberi arti tentang tatapn mata yang penuh dengan kekosongan. Mimpinya telah hilang, tenggelam di tengah mimpi buruk yang mulai tumbuh menjadi suatu kenyataan. Tidak bisa diragukan lagi, air pekat dilantai mulai menghitam, berhenti mengalir dari bawah perutnya. Dicoba untuk menyentuh tubuhnya namun perlahan sang anak perrempuan kecil yang terduduk di depan lemari dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, bersimbah darah, merintih dan perlahan-lahan mulai menyublim menjadi udara dingin yang basah. Anak perempuan kecil, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, meninggalkan kisah. Kini sebuah lemari, tersisa di depan mata.
Terdengar sayup-sayup suara pembaca kisah dari layar televisi, dengan rambutnya yang rapih, dan kalung emasnya yang menghiasi lehernya, sebuah cerita seorang anak perempuan bertubuh kecil, telah menjadi korban perkosaan. Diperkirakan, korban telah diperkosa secara bergiliran, dan tubuhnya dibuang begitu saja di saluran irigasi.