Tuesday, September 12, 2006

Jiwa

Seperti hari-hari sebelumnya, ketika orang-orang sedang sibuk-sibuknya berkerja, belajar, meraih cita-cita, mengejar mimpi, Dia hanya duduk termenung di kamarnya. Sampai hari ini di kepalanya terus berputar perkataan seseorang yang harusnya menjadi kekasihnya, "Gue bukan ceweknya elo!"

Ia hanya duduk termenung dan marah pada dirinya sendiri, kenapa juga ia harus meratapi nasibnya. Dari generasi ke generasi ia seharusnya menjadi seseorang yang kuat. Dia pernah menguasai bisnis besar yang dia rintis sendiri, dia pernah memiliki armada kapal pesiar yang selalu memberikan perjalanan mewah, dia...

Semua berawal ketika dia bertemu dengan seorang perempuan yang mungkin tidak bisa dibilang cantik. tapi ada sesuatu di dirinya yang membuat semua fokus pikiran dan tenaga tepusat pada sosok perempuan ini. Cukup tiga bulan saja bersama perempuan ini, semuanya langsung berubah secara drastis. Bisnis tetap lancar, pemasukan juga tetap mengalir deras, namun ia kehilangan sesuatu yang lebih berharga. Jiwa.

Siapa sangka kalau cukup sebuah sudut pandang yang berbeda saja bisa membuat dia mengkaji semuanya. Semua yang pernah dia jalanin dan membuatnya berrpikir ulang. Apakah benar ini yang perlu dia lakukan.

Semua yang pernah dia lakukan adalah untuk keberhasilan, kesuksesan, kejayaan, penghargaan dan uang?

Tapi jiwa?

Ia teringat saat dia akhirnya memilih untuk menjual jiwanya untuk seorang perempuan ini.
Sekarang dia hanya bisa duduk termenung, melihat jiwanya dicacah hancur. Sedikit demi sedikit digerogoti oleh belatung-belatung gemuk yang ganas.

Ia kini hanya bisa duduk di tengah kejayaan, di tengah kesuksesan, namun tanpa jiwa.

Tentunya perempuan itu bukan ceweknya dia. Dia adalah seseorang yang dikirim untuk mengambil jiwanya.

Tertera di sebuah surat kabar, seorang pengusaha muda yang sukses terbaring kaku terkena serangan jantung di apartemennya yang mewah. Diduga akibat stres ketika terkena kasus korupsi.

Seperti hari-hari sebelumnya, ketika orang-orang sedang sibuk-sibuknya berkerja, belajar, meraih cita-cita, mengejar mimpi, Dia hanya duduk termenung di kamarnya. Sampai hari ini di kepalanya terus berputar perkataan seseorang yang harusnya menjadi kekasihnya, "Gue bukan ceweknya elo!"

Ia hanya duduk termenung dan marah pada dirinya sendiri, kenapa juga ia harus meratapi nasibnya. Dari generasi ke generasi ia seharusnya menjadi seseorang yang kuat. Dia pernah menguasai bisnis besar yang dia rintis sendiri, dia pernah memiliki armada kapal pesiar yang selalu memberikan perjalanan mewah, dia...

Semua berawal ketika dia bertemu dengan seorang perempuan yang mungkin tidak bisa dibilang cantik. tapi ada sesuatu di dirinya yang membuat semua fokus pikiran dan tenaga tepusat pada sosok perempuan ini. Cukup tiga bulan saja bersama perempuan ini, semuanya langsung berubah secara drastis. Bisnis tetap lancar, pemasukan juga tetap mengalir deras, namun ia kehilangan sesuatu yang lebih berharga. Jiwa.

Siapa sangka kalau cukup sebuah sudut pandang yang berbeda saja bisa membuat dia mengkaji semuanya. Semua yang pernah dia jalanin dan membuatnya berrpikir ulang. Apakah benar ini yang perlu dia lakukan.

Semua yang pernah dia lakukan adalah untuk keberhasilan, kesuksesan, kejayaan, penghargaan dan uang?

Tapi jiwa?

Ia teringat saat dia akhirnya memilih untuk menjual jiwanya untuk seorang perempuan ini.
Sekarang dia hanya bisa duduk termenung, melihat jiwanya dicacah hancur. Sedikit demi sedikit digerogoti oleh belatung-belatung gemuk yang ganas.

Ia kini hanya bisa duduk di tengah kejayaan, di tengah kesuksesan, namun tanpa jiwa

Friday, July 21, 2006

kenapa ya koq sepi....

Zack de la Rocha pernah bilang

"silence... something about silence make me sick...
'cause silence can be violent ... sort tha like a slit wrist..."

terus dia melanjutkan

"Some speak with sounds
But speak in silent voices
Like radio is silent
Though it fills the air with noises"

sepi tuh kadang aneh ya...

sepi karena sendirian
sepi karena merenung
sepi saat berdoa
sepi di tengah keramaian
sepi ketika ketemu seseorang tapi gak tau mo ngomong apa

kadang

waktu ketemu seseorang dari masa lalu
namun pernah memberi sebuah kenangan berupa
bekas luka yang dalam...

sepertinya duduk terdiam tanpa perbincangan adalah sepi yang paling dalam

tapi...
ternyata ...

gak ada yang lebih sepi dari pagi ini...

Monday, June 26, 2006

Seorang teman sedang berkelana di eropa

Jadi ingat... waktu pertama kali dia bilang... mo keliling eropa hanya dengan 1000 dolar...
Mungkin dia memang tipe orang yang suka bertualang...

tapi hari ini nggak tau kenapa, sempat iseng baca blognya dia...
dan kesan pertama yang didapat..

She's doing alright...

visit her:
http://3rdsidewalker.blogs.friendster.com/225/

Tuesday, October 11, 2005

Ketika jemari berbicara - part #6

Keesokan Hari


Ketika sedang berjalan sendiri di tengah malam, ditemani dengan lembabnya udara dan belaian angin, seorang lelaki datang menghampiri.
"Besok akan kiamat, nak. Pikirkan, besok akan kiamat", bisik lelaki tua yang jubahnya ditutupi oleh debu, dengan janggutnya yang memutih menutupi seluruh dagunya serta kepulan asap menari-nari keluar dari rokoknya yang melekat di bibirnya. Lelaki tua itu berlalu.

Malam itu tetap lembab. Jalan sudah sepi. Cahaya bulan purnama menerangi lelaki tua yang mulai menjauh. Mungkin kiamat akan datang besok, mungki juga tidak. Ditinggalkan pikiran mengenai kiamat. Hari ini masih ada dan mungkin lebih berarti. Kini lebih baik pulang, mandi dibawah pancuran dengan air panas, minum susu hangat sembari duduk di meja kerja merencanakan kegiatan di esok hari, lalu tidur meringkuk dibalik selimut tebal penuh kenyamanan. Besok adalah suatu hari diantara hari-hari lainnya. Besok seorang teman akan datang menjemput untuk membawa materi presentasi ini agar dapat memukau para pemegang dana yang berjas hitam dan berdasi merah di gedung itu pada lantai 37. Besok adalah hari yang telah dinantikan sekian lama.

Keesokan pagi, sesuai denganyang telah direncanakan, seorang teman datang menjemput dengan sedan mewah pinjaman teman pacarnya.
"Biar terlihat lebih bonafit", ujarnya sembari tersenyum. Sang teman turun dari mobil, bergegas berlari ke dalam rumah, membawa keluar arsip-arsip, data-data dan materi presentasi, menumpuknya dengan rapih di bangku belakang.
"Today is the day", dengan logat kedaerahan yang sangat kental. Bersamanya di dalam sedan mewah terasa senyaman mandi dipancuran dengan air panas, susu hangat dan selumut tebal. Sedan mewah pun mulai menunjukan kelasnya, berlenggak-lenggok di antara angkot-angkot bising dan becak-becak renta dengan elegan dan cantik. Sedan mewah berjalan menuju sebuah gedung. Lantai 37 menunggu.

Pada sebuah persimpangan sembari menunggu lampu merah berhenti bersinar, sedan mewah pinjaman ini terlihat anggun sekali sehingga menarik perhatian seorang bapak-babak tua yang dituntun oleh anaknya. Sang anak yang berbakti pada bapaknya dengan ikhlas menjadi mata yang melihat bagi sang bapak tua dengan tangan terjulur meminta sedekah. Ketika sang bapak yang dan anak berlalu tanpa mendapatkan apa yang mereka inginkan giliran seorang pedagang asongan datang dengan baki yang penuh dengan rokok, botol air putih, permen dan korek api. Tak lama kemudian seorang pedagang mainan anak datang menghampiri. Tentunya mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena tiba-tiba mereka berdua terlihat ketakutan dan mulai menjauhi sedan pinjaman ini. Seorang lelaki berjaket kulit dengan lengan jaket ditarik sampai ke sikut menghampir. Terlihat tato di tangan dan di lehernya. Lelaki itu mengetuk jendela sedan dengan sebilah pisau. Tepat pada saat itu lampu merah berubah pendapat dan mulai terpancar warna hijau. Kali ini sedan mewah pinjaman dari teman pacar selamat dari goresan pisau.

Lambat laun, sebuah gedung mulai menampakan dirinya di ujung jalan. Tiket parkir mulai menjulur keluar, mengejek dari balik kotak besi. Palang besi mulai berdiri memberi jalan bagi sedan mewah. Sang teman tersenyum dengan penuh antusias. Sedan mewah mengikuti jalan yang mulai menembus perut bumi. Lantai B1 yang terletak dibawah permukaan tanah dipenuhi oleh kerabat sedan mewah. Pada salah satu pojok tersedia tempat kosong bagi sedan mewah untuk beristirahat. Sedan mewah berhenti dengan baik pada tempat yang telah tersedia.

"Today is the day", sang teman tersenyum, menghela nafas beberapa kali, kemudian kembali mengatakan kalimat yang sama. Ia tersenyum sejenak yang kemudian diiringi oleh sebuah cahaya putih yang menerkam dari segala arah bagaikan petir bergerak dengan cepat menutupi seluruh ruangan. Cahaya putih ada di mana-mana. Kini semuanya putih. Semuanya konstan. Suara menghilang. Tubuh tak terasa. Udara tak bernyawa. Waktu berhenti.

Pagi itu sebuah bom meledak di pelataran parkir bawah tanah.

Ketika jemari berbicara - part#5

Pada Hari Itu


Semuanya telah berubah sejak itu. Seorang pria muda yang dulu gagah dan penuh dengan kebanggaan kini mejadi seseorang yang selalu menutupi harga dirinya dengan tawa liar dan botol minuman keras yang bersemayam di tangannya. Dulu ia adalah seorang jagoan, yang berani sejak SD, yang disegani sejak SMP dan yang ditakuti sejak SMA. Kini ia selalu berada dipojok sebuah jalan tertawa keras, berusaha menarik perhatian orang-orang di pinggir jalan, dan selalu mengacung-acungkan botol minuman keras yang ia cekik. Kini ia hanyalah seorang pemuda kumel tanpa tangan kanan dan tanpa kaki kiri.

Hari itu cukup terik, pengaruh alkohol masih menari-nari di dalam darah dan masuk ke dalam jantung, ginjal, otak. Seorang pemuda yang dulu gagah masih berteriak-teriak sendiri berusaha menarik perhatian. Apa yang telah terjadi pada dirinya telah membuat harga dirinya rusak. Setidaknya ia merasa demikian. Dahulu ketika ia kehilangan tangan dan kakinya ia sedang berusaha menunjukan siapa yang paling jagoan di sekolahnya. Tentunya untuk menarik perhatian seorang gadis, anak baru di kelas satu SMA. Teringat hal itu dirinya kembali geram. Ia adalah kakak kelas dan harus selalu menjadi yang paling ditakuti agar mendapat harga diri. Kembali menjerit dari pojok jalan itu ia menjerit dengan marah lalu menegak minuman keras itu.

Matahari masih bersinar terik. Terlihat dua ekor kucing sedang terduduk, saling menatap tajam penuh dengan persaingan untuk memperebutkan sang betina yang tertidur anggun diantara keduanya. Kedua kucing itu berlari mulai menyerang satu sama lain. Teringat kembali saat itu ketika sebagai seorang pria muda yang gagah terpaksa dipermalukan di depan umum oleh seorang anak baru yang masuk di kelas dua SMA. Pada saat pria muda gagah yang dilengkapi dengan jaket kulitnya dan setangkai bunga hasil paksaan dari tukang bungan pinggir jalan hendak mendekati seorang gadis yang duduk di kelas satu SMA, terpaksa harapan untuk memilikinya sirna, ketika sang pria gagah di depan umum, dibawah hujanan ratusan pasang mata, sang gadis yang duduk di kelas satu SMA berkata bahwa ia baru saja jadian dua hari yang lalu dengan anak baru yang duduk di kelas dua SMA. Dipojok jalan itu sebuah botol alkohol setengah isi melayang dan pecah berkeping-keping.
Hari semakin panas. Ia terdiam dengan tatapan kosong. Kejadian itu seharusnya tidak mengubah dirinya dan tetap menjadi seorang jagoan. Kalah adalah sebuah kata yang menyakitkan. Setidaknya terasa demikian. Teringat pada hari itu, sebagai seorang jagoan dari kelas tiga, berdiri berhadap-hadapan menatap tajam, menentang dan bersiap-siap menantang anak kelas dua yang berdiri melindungi sang gadis dari kelas satu. Dikelilingi oleh murid-murid lain yang takut terhadap pemuda jagoan itu langkah pertama pun dilakukan dan kalimat pertama dilancarkan.

"Elo mau mati! Ga usah belagu lo!", tentunya sebuah kalimat yang tidak kreatif yang selalu menjadi repitisi dalam hidup sang jagoan.
"Ga usah belagu lo! mau mati!", kekurangan pembendaharaan kata telah menjadi trade mark sang jagoan.
"Petantang-petenteng. Ga usah belagu lo!", Terlihat jelas kecerdasan sang jagoan.
"Sini lo! kita buktikan siapa yang jagoan di sekolah ini!", sembari mengacungkan kedua kepalan tangannya sang jagoan merasa diatas angin. Tentu saja, karena anak kelas dua itu berbadan kurus. Saat itu merupakan hari pembuktian.

Hari mulai terik. Terdengar suara sirine polisi meraung-raung tumbuh dari kejauhan. Sang jagoan yang kini berdiri dengan pakaiannya yang compang camping di pojok jalan itu yang sedang berusaha menyelamatkan harga dirinya yang hancur dimasa lalu. Tatapan matanya kini kosong menatap jalan. Mulutnya menganga. liurnya mengering. Teringat di hari yang bersejarah itu. Pada saat sang jagoan menunggu menatap anak ingusan dari kelas dua, pada saat itulah kemenangan akan datang, kalau saja anak kelas dua it tidak berlutu dihadapannya.

"Baiklah," ujar anak kelas dua itu," baiklah kalo itu yang kamu mau. Silahkan. Kalo kamu merasa lebih gagah dengan mukulin gua, gua ga akan ngelawan. Siapa tau kamu ngerasa lebih hebat di depan cewek-cewek kalo kamu mukulin orang yang ga ngelawan. Mungkin dengan cara gini elo ngerasa lebih jagoan." Hatinya terbakar amarah, apalagi ketika seluruh orang disekitarnya mulai menertawakannya. Pada hari itu ia hanya berdiri dengan mulut yang menganga, hati yang terbakar dan harga dirinya yang hancur.

Matahari semakin tidak bersahabat dan mulai menusuk matanya. Suara sirine mobil polisi semakin jelas terdengar. Tangan kirinya bergetar meraba bahunya yang tanpa lengan. Mulutnya menganga air mata mulia berkumpul di kantung matanya. Teringat kembali di hari yang bersejarah itu. Berhadapan dengan anak kelas dua yang berlutut dihadapannya tanpa perlawanan. Setelah lima menit tanpa aksi, ia melihat anak kelas dua itu pergi meninggalkan arena tarung di halaman sekolah, berjalan dengan gadis kelas satu menuju mobilnya di seberang jalan. Sekarang atau tidak sama sekali, pikirnya. sembari menyebrang jalan dikejarnya anak kelas dua itu. Diacungkan pisau lipatnya penuh dengan amarah. Kini anak kelas dua itu harus mati.

Matahari membakar seluruh tubuhnya. Air mata mulai mengalir. Dibalik isakan teringat pada hari bersejarah itu badanya melayang diudara. Sebuah truk sampah telah menghantam tubuhnya dan melemparnya sejauh lima belas meter. Seharusnya itu tidak terjadi. Seharusnya tidak ada truk sampah yang lewat di tengah jalan. Seharusnya si anak ingusan yang sok suci itu mati ditangannya. Seharusnya Truk sampah itu tidak mengambil tangan kanan dan kaki kirinya.

Suara raungan mobil polisi mendekat. Tatapan mata sang jagoan kosong. Kenyataan sejarah masih terlalu menyakitkan. Kenyataan hari ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Hari-hari yang dilewatinya adalah usaha untuk menyelamatkan harga dirinya yang habis digerogoti oleh waktu. Mobil polisi itu memntgawal iring-iringan mobil. Sekilas ia melihat diantara iringan mobil tersebut sebuah sedan mewah berwarna hitam dengan hiasan bunga penuh keceriaan melintas dihadapannya. Si anak kelas dua keparat itu sedang duduk mesra bercumbu dibalik kaca riben mobil itu bersama dengan gadis dari kelas satu yang cantik, berdua, terlihat bahagia, dengan baju pengantin berlanjut menuju tahap hidup selanjutnya.

Ketika jemari berbicara - part #4

Anugrah


Ketika itu di tengah meja makan yang tersedia hanyalah sepiring nasi, dua buah tempe dan satu ekor ikan yang dimasak kering. Makanan malam itu. Teringat kembali disaat meja penuh dengan makanan yang nikmat dimana semuanya masih normal keadaan. panas, lelah, letih yang kini tersisa.

Dicicipi nasi beserta satu gigitan tempe. Nikmatnya masih sama seperti tempe yang biasa ia makan dahulu. Ketika anaknya masih ikut tertawa-tawa bersamanya di meja makan itu. Air matanya mulai berlinang. Bajunya masih basah dengan darah segar.

Dengan satu gigitan besar ditelan kepahitan yang ia alami malam itu. Air mata pun mengalir mengingat Istrinya tersenyum setiap kali ia bergurau dengan anaknya. Kini ia harus mengubur tubuh istrinya. Selera makannya pudar. Ia menyesali dirinya diciptakan. Ia marah telah diciptakan. Ia mengutuk dirinya karena diciptakan berbeda.

Tertunduk bertanya dengan banyak kata mengapa. Malam itu satu jam yang lalu tepatnya. Kawanan perampok masuk ke dalam rumahnya. Mereka menodongkan pisau, golok, bahkan keris. Mereka mengikat dirinya, anaknya dan istrinya. Mereka mulai mengumpulkan barang-barang yang ada di rumahnya. Ia sempat berpikir harta hanyalah titipan, bisa dicari di lain hari, yang penting istri dan anaknya selamat. Sepertinya pikirannya terbaca oleh salah seorang penjahat itu dan menggagas untuk melepaskan tali yang mengikat istrinya. Sembari mengejek-ejek, mereke mulai melucuti pakaian istrinya.

Dalam amarah diantara ikatan tali ia menjerik, memaki mereka yang mulai bermain di atas tubuh istrinya. Anaknya menangis dan menjerit, Seduah tongkat menghantam kepala anaknya hingga pingsan. Kini mereka dengan puas bermain diatas tubuh istrinya. Di tengah ikatan ia mulai menjeri dengan penuh amarah. Kini tongkat tersebut menghantam kepalanya. Ia jatuh tersungkur di tengah ikatan. Sebuah aliran darah menutumi matanya sehingga semua yang ditatapnya berwarna merah. Terlihat istrinya menjerit tanpa suara dan kini sudah orang yang ketiga bermain diatas tubuh istrinya.

Dadanya mulai mendidih, ikatan di tubuhnya masih erat. Pandangannya mulai kabur tercampur diantara rasa sedih. Air mata darah mulai mengealir. Kepalanya memanas, nafasnya menderu, pikirannya berteriak seakan hendak meledak. Giginya terkatup. Tangannya mengepal. Terasa urat nadinya mulai membesar dengan darah panas mengalir dengan deras. Jantunganya berdegup kencang, dengan otot-otot yang mulai mengeras pikiran di kepalanya menjerit dengan perlahan, "Cukup."

Pada saat itulah sebuah medan amarah di dalam tubuhnya memancar keluar. Bagaikan sebuah gelombang energi yang tidak terlihat secara bersamaan semua tubuh, makhluk hidup yang ada di sekitarnya terkoyak hancur terkena imbas gelombang energi yang memancar dari dalam tubuhnya, mereka hancur tercabik-cabik dan darah berterbangan mewarnai dinding. Hanya dalam sekejap semua yang terbuat dari darah dan daging hancur berserpihan, tidak terkecuali anak dan istrinya.

Kini ia duduk sendiri di meja makannya. Dengan sepiring nasi, dua buah tempe dan satu ekor ikan yang dimasak kering. Mengutuk dirinya yang mempunya kekuatan penghancur yang tidak bisa ia kendalikan. Untuk ke sekian kalinya ia harus menyaksikan anak istrinya menjadi serpihan. Kini ia harus mulai segalanya dari awal lagi, mencari desa baru, mencari kekasih baru, mencari pekerjaan baru, melamar kekasih, menikahi kekasih, mempunyai anak lagi dan tidak berhenti mengutuk dirinya yang telah diciptakan dengan kekuatan penghancur yang ia tidak bisa kendalikan.

Ketika jemari berbicara - part #3

Putaran Kelam


Ia sedang mengendari mobilnya, pada suatu malam, sendiri, diantara tubuh-tubuh molek yang berdiri di sepanjang jalan. Matanya memandang ke kiri dan ke kanan, mencari-cari pilihan yang tepat. Putaran pertama telah dilalui, dan tidak ada pilihan yang tepat. Wajah masam bercampur dengan sedikit nafas lega, menghiasi perasaan hatinya. Satu kali lagi ia terlepas dari perbuatan maksiat.

Dalam perjalanan pulang, ia memutar kembali kemudi mobil untuk melakukan putaran yang kedua. Tubuh-tubuh molek yang terpajang di trotoar jalan masih yang sama. Tidak ada rasa capai, maupun pegal kedua matanya tetap mencari. Ada salah satu yang menyapanya, tapi dengan cepat saat itu berlalu, ia pun mengakhiri putaran yang kedua dan berpikir," Pasti kalau saya berkeliling untuk yang ketiga kalinya, tubuh-tubuh molek itu masih sama seperti yang tadi".

Diputarnya kembali mobilnya untuk melakukan putaran yang ketiga. Berjanji ia dalam hatinya, apabila ia tidak menemukan yang cocok, ia akan segera pulang. Namun Ada sebuah tubuh molek, baru saja turun dari taksi, dan langsung tersenyum menyapa dirinya. Ia sempat melihatnya barang sekejap, namun kemudinya harus menuruti badan jalan yang mulai hilang dipersimpangan. Tentu keputusannya tidak bisa disangkal lagi.

Putaran berikutnya pun ia lakukan, dan tubuh molek yang tadi tersenyum menyapanya, masih ada di sana. Perlahan-lahan ia mulai mendekat, dengan cekatan dibuka jendelanya perlahan-lahan, dan dari balik keremangan tubuh molek itu muncul mendekati jendela bersambut dengan cahaya. Sempat detak jantungnya nyaris terhenti, melihat wajahnya yang tertutup tebal dengan bedak dengan alis yang dilukis terlalu tinggi dan lipstik merah melebar dari kiri ke kanan di wajahnya. Belum sempat tubuh molek tersebut menyapa, dengan sigap diinjak gas mobil tersebut dan dengan cepat menjauh dari tubuh tersebut. Kembali ia bersyukur terlepas dari maksiat daripada harus meladeni sosok yang akan menghantuinya sebelum tidur.

Sekedar iseng, ia lakukan satu putaran terakhir, sesuai kata hatinya, untuk sekedar menutupi rasa penasarannya. Terlihat beberapa tubuh yang tidak kalah menarik bermunculan ke badan jalan dan trotoar dari dalam gedung. Sebagaian lagi mulai membuka jaketnya. Kali ini ada tubuh molek mungil, seakan-akan malu-malu di pinggir jalan. Terlihat masih muda sekali. Namun diurungkan niatnya untuk mendekat. Keyakinannya masih berkata bahwa ia tidak ingin dihantui oleh wajah-wajah itu sebelum tidur. Namun ketika ia nyaris memutuskan untuk pulang. Terlihat wajah pemilik tubuh yang mungil itu, secantik gadis disaat masih ranum.
Tidak ada salahnya melakukan putaran berikutnya. Dengan gas yang diinjak dalam, takut kehilangan suatu kesempatan, dikendalikan mobil itu dengan lincah. Akhirnya memasuki badan jalan yang ditunggu-tunggu. Terlihat dari kejauhan Tubuh mungil yang cantik. Mobil pun mulai mengurangi kecepatannya sedikit demi sedikit. Sebuah mobil mendahului dari sebelah kiri dan langsung menghampiri tubuh mungil tersebut. Mobil mewah berwarna hitam mengkilap, berhenti tepat disamping tubuh mungil yang berdiri di trotoar. Hanya mampu memandang tubuh mungil itu naik ke dalam mobil mewah didepannya, Kembali ia bersyukur terlepas dari maksiat, namun sedikit sedih dan menyesali dirinya karena kurang cepat mengambil keputusan sehingga sebuah kesempatan hilang di depan matanya. Kini ia memutuskan untuk pulang.

Putaran terakhir, pikirnya, hanya sekedar ingin tahu. Perlahan, dibelokan mobilnya memasuki jalan dan trotoar yang sama, sekedar inigin tahu. Terlihat beberapa tubuh yang tadi masih tersenyum dan melambai-lambaikan tangan. Ia pun pada akhirnya berpikir, bahwa kini dirinya benar-benar terselamatkan dari sebuah maksiat yang akan menganiaya dirinya sendiri. Kini dia akan pulang. Matanya pun menatap sepion unutuk mengucapkan selamat tinggal kepada jalur sutra hitam kelam dan pada saat itulah ia melihat mobil mewah berwarna hitam tadi menurunkan tubuh mungil yang cantik tadi kembali ke trotoar. Tanpa berpikir panjang, ditancap gasnya untuk melakukan satu putaran terakhir.

Dan ia kembali bersama mobilnya memasuki jalan itu. kini kendaraannya berjalan dengan perlahan. Satu dua kali lampu dim dinyalakan. Terlihat tubuh mungil yang cantik itu melemp[arkan senyumnya. Di buka kunci mobilnya, kemudian dirapatkan mobilnya mendekati trotoar. Langsung saja dibuka pintu mobilnya agar tubuh tersebut bisa masuk. Diiringi wangi yang semerbak, tubuh mungil itu bergabung dengan dirinya di dalam maobi. Dengan jantung yang berdegup kencang ia sedikit malu untuk menoleh ke arah tubuh itu. Kini ia dihantui rasa takut diikuti oleh mobil polisi. Perhatinya pun terpecah antara kaca sepion dengan jalan yang hendak ia tempuh. Setelah beberapa saat memperhatikan sepion dan jalan di depannya dan merasa yakin tidak ada mobil polisi, petugas keamanan atau mobil yang ia kenal, ia memberanikan dirinya untuk melihat ke arah tubuh yang ada di sebelahnya.

Terkejut dalam hatinya melihat sosok tubuh mungil dengan wajahnya yang tertutup tebal dengan bedak dengan alis yang dilukis terlalu tinggi dan lipstik merah melebar dari kiri ke kanan di wajahnya. Ia berharap untuk segara melakukan putaran memasuki jalan itu dan menurunkan tubuh mungil tersebut. Ketika tiba di jalan yang dituju, tubuh itu tidak ingin turun sehingga dengan sogokan satu bungkus rokok dan uang sepuluh ribu rupiah, akhirnya bisa dibujuk untuk meninggalkan mobil. Rasa sesal menyelimuti dengan sejuta kata 'seharusnya'. Kini ia benar-benar memutuskan untuk pulang.

Dan melakukan putaran yang terakhir, sekedar ingin tahu. Kemudipun kembali diarahkan ke jalan sutra itu. Dan kini trotoar dan badan jalan telah dipenuhi oleh tubuh-tubuh tanpa wajah yang memanggil, menyapa, melambai untuk diberi kesempatan. Dan kini mulai berdatangan berbagai jenis mobil dari yang mewah sampai yang kaleng ingin ikut menikmati tubuh-tubuh yang melayang-layang dengan senyuman di pinggir trotoar. Dan terlihat beberapa sirine dantang menghampiri mulai membuat kepanikan diantara keduanya. Dan akhirnya ia benar-benar memutuskan untuk segera pulang sebelum ikut terjerumus ke lubang yang penuh dengan rasa malu.

Setelah mengemudi beberapa lama dengan tujuan akhir rumah, ada baiknya untuk melakukan putaran yang terakhir agar segalanya menjadi pasti. kembali dikemudikan mobilnya menuju jalan yang tadi. Tiap menit serasa satu jam lamanya, sampai pada akhirnya tiba di persimpangan menuju jalan sutra yang kelam tadi. Kini jalan tersebut sudah sepi, kosong, senyap. Yang tersisa tinggal beberapa tubuh yang meronta ditarik kedalam sirine. Kini jelas semuanya.

Akhirnya ia bisa pulang dengan tenang. Ia bersyukur bisa terlepas dari perbuatan maksiat yang nyaris akan menganiaya dirinya sendiri. Ia bisa tersenyum lega dan mentertawakan kebodohannya karena malam itu ia harus kehilangan satu bungkus rokok dan uang sepuluh ribu. Namun kini muncul kekhawatiran. Apa yang akan terjadi bila ia kembali terjebak pada putaran kelam yang membuat dirinya berputar-putar membakar bensin dijalan sutra tersebut? Apa yang akan terjadi apabila pada saat ia terjebak kembali ia harus melawan dirinya untuk tidak berhenti dan mengangkut tubuh yang tak berwajah itu? Apa yang akan terjadi bila kini ia terpaksa berbuat maksiat dengan tubuh dan wajah yang akan menghantui dirinya setiap kali ia hendak tidur? Apa yang akan terjadi ketika dipuncak kenikmatan yang hambar, sebuah sirine akan mendekat dan menelannya bulat-bulat? Apa yang akan terjadi?
Ketika tiba di rumahnya. Ia terdiam tanpa jawaban. Malam ini ia terselamatkan dari maksiat dan aniaya terhadap dirinya sendiri. Malam di lain waktu?

Ketika jemari berbicara - part #2

Sang pemanggil

Berselimutkan debu, terduduk sendiri di sebuah gang. Terdekap di sebuah pojok yang gelap. Menatap lalu-lalang yang ramai pada jalan utama. Berbagai macam mobil, berwarna-warni melintasi jalan utama yang diterangi lampu natrium. Apakah itu sebuah cita-cita yang berubah menjadi sebuah mimpi dan berakhir menjadi sebuah fatamorgana? Apakah itu sebuah harapan, yang seiring dengan waktu semakin menjadi kabur dan mendarat di sebuah pulau uthopia? Apakah itu sebuah masa depan yang menjadi sebuah cerita dan berakhir sebagai sebuah khayalan?

Mobil tersebut tetap belalu lalang. Malam yang dingin diselimuti oleh debu. Sesosok tubuh yang meringkuk itu memungut sebuah batu kecil, kemudian diangkatnya mendekati mulutnya. Ditiupnya batu tersebut yang perlahan-lahan menjadi sebuah pijar biru terang keputih-putihan. Sosok tersebut berbisik perlahan-lahan," Sekarang sudah waktunya Aku melaksanakan tugas untuk memanggil kalian"

Malam itu sebuah kota dikejutkan oleh suara ledakan keras. Beberapa rumah yang terletak pada sebuah gang sempit hancur berantakan. Kabar berkata sebuah kompor Gas meledak dan membakar beberapa rumah lainnya, sementara para penghuninya sedang tidur terlelap.

Ketika jemari berbicara - Part #1

Rondez Vous


Rendez Vous. Pada suatu malam, yang sepi, di sudut jalan, ditemani secangkir kopi panas. Bergegas menyebrang jalan, menghampiri waktu. Waktu silam yang telah belasan tahun absen dalam kehidupan. Apakah yang akan dirasa, menjemput waktu dikala muda penuh tawa? Apakah yang akan dirasa, menatap wajah yang penuh sejarah. Apakah yang akan dirasa ketika sejarah cinta yang penuh dengan larangan?

Ketika tiba di sebrang jalan, ia telah berdiri, tersenyum. Ya, sudah belasan tahun yang lalu ketika harapan untuk hidup bersama, dipaksa untuk sirna. Ketika sepasang wali enggan untuk menurunkan restu menuju kebahagiaan. Ketika berdiri menatapnya dengan pecahan-pecahan mimpi yang berserakan di langit, ketika wajah dipermalukan dengan lumpur, tanah dan darah.

Ia tersenyum manis, seperti kenangan dalam buku harian. Angin malam dan hawa dingin mengiringi harapan lama sekedar untuk bertanya,"Apa kabar". Seperti apa harapan? Seperti apa cita-cita? seperti apa mimpi? Harapan semu? Cita-cita maya? Mimpi yang telah dibuyarkan oleh kedua orang tua mu yang mengatakan, "TIDAK ADA RESTU BAGI KALIAN BERDUA UNTUK MENIKAH!" Akan terbukakah lembaran terang buku harian setelah belasan tahun penuh dengan kegelapan?

Ia tersenyum manis, setelah satu minggu yang lalu penuh dengan air mata, melihat kedua orang tuanya sirna dalam kecelakaan lalu-lintas. Kini mungkin lembaran terang buku harian akan mulai mengisi waktu. Mungkin masih ada harapan untuk kembali ke dalam sejarah, merangkai kembali rantai yang dulu dipaksa untuk berserakan. Mungkin masih ada kesempatan untuk menjalani hari-hari, berdua, tanpa hambatan, tanpa wali yang mendengki, tanpa masa silam yang kelam, toh, mereka telah tiada sekarang, sirna ditelan oleh dosa dalam merengut suatu harapan yang indah. Kini saatnya untuk membuka lembaran baru, yang penuh dengan cahaya.

Ia tersenyum manis, sembari mengelus perutnya yang sudah hamil tujuh bulan. Janin dari seorang hidung belang yang menjadi pilihan kedua orang tuanya, dengan penuh restu untuk membentuk suatu keluarga yang sakinah, dan kini hidung belang itu telah pergi dengan wanita lain, dan kini wajahnya dapat ditemukan di dalam surat kabar bahwa ia harus mendekam dipenjara akibat transaksi obat-obat terlarang. Seperti itukah yang dipilih oleh sepasang wali hanya karena ia putra dari seseorang yang dianggap tinggi oleh orang tuamu? yang dianggap suci sehingga sepasang wali mau mencium tanah hanya untuk dia?
Ia tersenyum manis, tampak cantik, dengan mengelus perutnya. Waktu pun terus berlalu, tanpa menyapa, tanpa bicara, tanpa kata, langkah pun terhenti. Sejenak memperhatikan perubahan wajahnya, senyum diwajahnya perlahan-lahan sirna. Tampak dari pancaran matanya bertanya-tanya,"mengapa engkau berhenti? Tidakah kau merindukanku walaupu kini telah tumbuh badan dilam badanku?"

Akhirnya tanpa sungkan, berjalan mundur dan membuang pandangan agar tidak melihat wajahnya yang sedih dan bakal anak dalam kandungannya, menghembuskan nafas yang penuh dengan sejarah kelam. Tanpa penyesalan meninggalkannya, berjalan menjauh tanpa ucapan selamat tinggal.

Sebuah Dongeng

Di sebuah sudut


Semuanya dimulai pada suatu malam. Disaat bulan sedang purnama, dan seekor tikus sedang menemani menonton TV. Tidak ada yang tahu mengapa. seorang diri di tengah sepi, penuh dengan inspirasi yang tak kunjung menjadi. Terdiam, melamun, merintih, seperti seorang veteran yang pulang tanpa kedua kakinya.

Di saat itulah terdengar suara kecil, merintih di tengah malam. Desir angin dingin meraba indranya. ditatapnya wajah seorang anak perempuan kecil, yang terduduk di depan lemar. merintih. Siapakah dia? mau apa dia? mengapa pada saat-saat seperti ini dia datang mengunjungi?

Anak perempuan kecil, dengan gaun tidur berwarna putih. terduduk sendiri di depan lemari, merintih. Satu, dua, tiga, beranikah pada saat seperti ini untuk datang menghampiri dan bertanya padanya, "Apa yang terjadi padamu pada waktu silam?"

Tatapan mata yang iba, diiringi suatu kegetiran, anak perempuan kecil merintih.
Sendiri, dengan seekor tikus, dan seorang anak perempuan kecil, pada satu ruangan yang sama. TV tetap berbicara, bercerita tentang cuaca buruk yang menyebabkan banjir dan menghancurkan ratusan hektar padi siap panen, kemudian seorang pejabat tinggi, yang bertanggung jawab atas kemajuan daerahnya, menyangkal dugaan korupsi dan pergi menghindari kamera dengan menggunakan mobil mewah yang hanya ada satu di kota itu. Anak perempuan kecil merintih.

Mengapa ia mengunjungi pada saat seperti ini? Angin dingin yang mengusik indra, vibrasi pancaran TV yang bermain-main dengan iris mata. Suasana sepi yang menyiksa, dan kesendirian yang menyisa. Seorang perempuan kecil, merintih di depan lemari. Terduduk, dengan kepala menunduk.dengan gaun tidurnya berwarna putih. merintih.

Satu, dua, tiga, mungkin biasanya sesosok hijau yang penuh dengan nanah berdiri di depan pintu, atau sesosok bentuk dengan satu mata mengamati, atau wujud bocah botak yang mengajak bermain. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. Kali ini seorang anak perempuan kecil terduduk dengan gaun tidur berwarna putih, di depan lemari.

Matahari masih harus menunggu, paling cepat empat jam sebelum ia berhak untuk menyapa bumi dengan cahayanya, apabila ia mau. bintang pun enggan untuk keluar dari tempat persembuniannya dari balik awan. Kali ini dirasa sangat perlu untuk bertanya, "Mengapa ia datang pada saat seperti ini"

Terasa sepi, terasing dan sendiri, seperti ditinggalkan oleh waktu, Dicoba untuk bangkit dan menghampir, sesosok anak perempuan kecil, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, merintih. Sudah bosan dengan permainan yang lau, sebuah mata menyempil di balik kegelapan, Sosok putih berambut pancang, pucat, tanpa wajah, yang biasa berdiri di samping televisi, berusaha tetap diam, mematung, menarik perhatian, namun kali ini bukan sesosok yang biasa datang mengunjingi. kali ini hanya seorang anak perempuan kecil yang duduk di depan lemari, merintih.

Berdiri di depan sang anak perempuan kecil, tidak memberikan reaksi yang berarti. Dicoba untuk berlutut mungkin akan membawa suatu haeapan untuk sebuah jawaban. Tapi untuk memulai bertanya, mungkin bukanlah sesuatu yang mudah untuk dimulai. Anak perempuat kecil, duduk tertunduk di depan lemari, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, merintih.
Ditatapnya rambut panjang yang berwarna hitam, menyentuh gaunnya yang masih putih. Rambutnya basah, jemarinya bersatu, badannya menggigil. Angin dingin kembali menyapa. tetesan air, mengali membasahi lantai. Wajahnya engan untuk diperlihatkan, namun isaknya cukup bercerita untuk menggambarkan raut wajahnya. Wajah polos, yang sedih, dengan tatapan mata yang kosong, seakan telah kehilangan sebuah mimpi bernama masa depan. Seorang anak perempuan kecil, terduduk di depan lemari, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, merintih.

Telapak kakinya terlihat sudah biru, dan gaun tidurnya, basah. terlihat tubuhnya yang rapuh menembus kain lembut putih yang melekat basah di tubuhnya. Hati terasa bergetar utnuk bertanya, namun rintihannya mulai memberi makna. Kedua telapak telapak tangannya mempersatukan kelima pasang jemari, bersatu di sekitar perutnya. Air mengalir dari rambutnya menetes diatas lantai. Namun, apakah itu air? Apakah itu air yang menbasahi lantai. mengapa iar begitu pekat dan menghitam seiring dengan waktu. Gaun tidur yang berwarna putih. Putih. Putih. putih dan dibalik jemari terlihatbercak-bercak merah yang mulai menjadi noda. Bercak-merah yang kini memenuhi sekitar pahanya, mulai mengering menjadi kerak paga gaun tuidurnya yang berwarna putih, mulai menunjukan sebuah kisah. Rintihannya mulai terdengar sayup-sayup menjadi rangkaian kata-kata. Tundukan kepalanya mulai memeberi arti tentang tatapn mata yang penuh dengan kekosongan. Mimpinya telah hilang, tenggelam di tengah mimpi buruk yang mulai tumbuh menjadi suatu kenyataan. Tidak bisa diragukan lagi, air pekat dilantai mulai menghitam, berhenti mengalir dari bawah perutnya. Dicoba untuk menyentuh tubuhnya namun perlahan sang anak perrempuan kecil yang terduduk di depan lemari dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, bersimbah darah, merintih dan perlahan-lahan mulai menyublim menjadi udara dingin yang basah. Anak perempuan kecil, dengan gaun tidurnya yang berwarna putih, meninggalkan kisah. Kini sebuah lemari, tersisa di depan mata.

Terdengar sayup-sayup suara pembaca kisah dari layar televisi, dengan rambutnya yang rapih, dan kalung emasnya yang menghiasi lehernya, sebuah cerita seorang anak perempuan bertubuh kecil, telah menjadi korban perkosaan. Diperkirakan, korban telah diperkosa secara bergiliran, dan tubuhnya dibuang begitu saja di saluran irigasi.

Wednesday, July 20, 2005

Down the alley ...

Image hosted by Photobucket.com

Sometimes ...
A lot of things running through the mind
An activist ...
A socialist ...
A sinner ...
You don't really know where you're heading

Each human being, runs in flesh, has it's own heart,
An animal living beneath the surface of elastic skin, ready for rage

A good soft hand, the right one, the one,
Able to tame this savage beast
Along with tender touch and pure heart
Along with soft smile and pure blood

A taste of beauty that float in the air,
A single touch that's blessed with of care
A beauty perch like a butterfly
The world has change, it's time to die

-after walking down the alley ... of Sin City-

Image hosted by Photobucket.com

Thursday, July 14, 2005

The secret ... The beauty ... The question

Image hosted by Photobucket.com

Well... there's a lot of things that's hidden as secrets in this world. History of the world, for example, is still a mystery. End of the world? Nobody knows.

They can only predict it with a lot of theories that stays as theories. How about beauty? Err… that’s a million dollar question.

Words after words after word, beauty become a never-ending discussion. On fashion, cosmetics, models, and lots more. Rare things are also being described as beauty even though it looks like shit. Death also could be a beautiful experience.

Big fat woman might be the most beautiful girl in the world. Each of the living and non-living being in this world has its own definition of beauty. Antiques? Usually yes. There will always be problems and question about beauty. You never know, what the beauty really is.

Well … some questions are better to be left unanswered. As if this question might be one the beauty of this life. Some might agree some might not.

But probably a lot of them just don’t care about it. Experiencing the beauty in life has different effect to each human soul. It’s very personal gift to a person. Nobody can mess with it. Guess it might be one of the definite things in life.

Incredible things happen to a person who has seen “the beauty”. Not all of them can survive this kind of beauty. Very little happens to get bless by this bliss. Either they got mad and crazy by this beauty or they just to blind to see it. Normally it is followed with the obsession of the beauty. They just can’t explain it why but they do insist it. Every story might have disastrous memories about the beauty, but some might be very enlightening. Darkness may come from the beauty, and destroy anything a man believes on, it also may give hope and light to the blind.

Maybe time will change. Answer may come. Rocks would be broken. Inside it there’s something. A fresh answer. Now it is the time to describe what is beautiful to you. Answer is in the air and in everything you know.

Why? As soon as you really curious to find out what beauty really is the answer is there already. Some call it riddles some call it jokes.
There always answer in every question. How would you know? Every time you start to write a word of a sentence it already has an answer. Read again what you write and every thing will be clear. Every little thing in this world might be the right answer.

Wednesday, July 13, 2005

Akhirnya...

Ikan Manyun

Image hosted by Photobucket.com


Setelah lama gak buka Blog... sekarang buka lagi huahahaha...
Masih baru lagi nih :D