Seperti hari-hari sebelumnya, ketika orang-orang sedang sibuk-sibuknya berkerja, belajar, meraih cita-cita, mengejar mimpi, Dia hanya duduk termenung di kamarnya. Sampai hari ini di kepalanya terus berputar perkataan seseorang yang harusnya menjadi kekasihnya, "Gue bukan ceweknya elo!"
Ia hanya duduk termenung dan marah pada dirinya sendiri, kenapa juga ia harus meratapi nasibnya. Dari generasi ke generasi ia seharusnya menjadi seseorang yang kuat. Dia pernah menguasai bisnis besar yang dia rintis sendiri, dia pernah memiliki armada kapal pesiar yang selalu memberikan perjalanan mewah, dia...
Semua berawal ketika dia bertemu dengan seorang perempuan yang mungkin tidak bisa dibilang cantik. tapi ada sesuatu di dirinya yang membuat semua fokus pikiran dan tenaga tepusat pada sosok perempuan ini. Cukup tiga bulan saja bersama perempuan ini, semuanya langsung berubah secara drastis. Bisnis tetap lancar, pemasukan juga tetap mengalir deras, namun ia kehilangan sesuatu yang lebih berharga. Jiwa.
Siapa sangka kalau cukup sebuah sudut pandang yang berbeda saja bisa membuat dia mengkaji semuanya. Semua yang pernah dia jalanin dan membuatnya berrpikir ulang. Apakah benar ini yang perlu dia lakukan.
Semua yang pernah dia lakukan adalah untuk keberhasilan, kesuksesan, kejayaan, penghargaan dan uang?
Tapi jiwa?
Ia teringat saat dia akhirnya memilih untuk menjual jiwanya untuk seorang perempuan ini.
Sekarang dia hanya bisa duduk termenung, melihat jiwanya dicacah hancur. Sedikit demi sedikit digerogoti oleh belatung-belatung gemuk yang ganas.
Ia kini hanya bisa duduk di tengah kejayaan, di tengah kesuksesan, namun tanpa jiwa

0 Comments:
Post a Comment
<< Home